19.06

SUARA - SUARA ORANG TUA

Saat di angkutan umum, di taxi, di mobil priadi di rumah, di sekolah garasi aku mendengar suara-suara. Semua suara menceritakan tentang repotnya tahun ajaran baru bagi anak-anak mereka.

Ada apa dengan sekolah?
Ibu A (di Dapur) : "Tidak tahu ya mbak, sekarang mah cari sekolah susah setelah dapat sekolah pun susah".
Ibu B (di mobil) : "Wah, masuk SD saja kok susahnya minta ampun, kasihan anakku tidak dapet sekolah sekarang les dan TPA, anaknya minta seragam merah putih kalau les".
Ibu C (dirumah tetangga ) : "Budhe, anakku itu khan tidak bodoh... kenapa nyari sekolah negeri tidak dapaat juga..." "
Ibu D (entah dimana) : "Mengapa sekolah negeri lebih mahal dari swasta?"
Ibu E (di teras) : "Ribetnya daftar SMA sistem on line tapi komputernya gangguan"
Ibu F (di tempat jauh dari rumah) : "Wah SMP disini keren, tapi musti antri masuknya"
Ibu G (sekolah anakku) : " Bulan Juni kok sudah tidak terima murid baru, alasannya penuh maksimal 1 kelas 15 murid tidak lebih "
Bapak H (di jalan) : "Kuliah dimana ya bu, kalau murah hasilnya tidak bisa kerja, kalau mahal saya tidak mampu biayanya".

Dan Sekolah garasipun mendapat bagian cerita juga, Si kembar murid sekolah garasi satu berhasil masuk SD satunya tidak dikarenakan bangku sekolahnya habis (kelas sudah penuh). Sehingga Feny kelas 1 SD sedangkan kembarannya Fena kembali ke sekolah garasi, terbersit dalam pikiran,"apakah nantinya tidak ada beban psikologis pada si kembar ini ya..."

Ada apa dengan negeri ini? Mengapa sekolah menjadi rumit? Negara dengan potensi SDM yang cukup luar biasa tidak bisa dikelola dengan maksimal hanya karena masalah pendidikan. Terutama generasi penerus dari keluarga tidak mampu tetapi memiliki bakat dan kepandaian yang luar biasa.

Keterbatasan akses keluarga kurang mampu secara ekonomi menjadi masalah besar, bagi peningkatan kualitas generasi penerus bangsa. Apalagi jumlah masyarakat yang hidup di garis ini meningkat, sehingga menjadi generasi mayoritas negeri ini nantinya. Hal tersebut tidak bisa terjawab dengan membanjirnya teknologi informasi yang berkembang sekarang ini. Selain masih mahalnya akses internet juga belum ada pengakuan dari pemerintah untuk intelektual informal. Ijasah masih satu-satunya barang berharga yang dinilai dan dijadikan pijakan dalam menentukan kepandaian seseorang. Pemerintah dan kitapun masih terjebak pada selembar kertas padahal konon menurut berita selembar kertas tersebut banyak yang palsu.

Sekolah garasi mau tidak mau mulai mengikuti apa yang terjadi... materi dan metode yang tepat sedang dibicarakan semoga menjadi yang terbaik bagi anak-anak garasi.

"Keterbatasan bukan kendala, asalkan tidak ada kemalasan didalamnya..."


Hanya sekedar berbagi apa yang ada dihati dan pikiran..
salam pendidikan dan pemerdekaan
sekolah garasi
SHP

0 komentar:

Posting Komentar