Kembali topik seragam menjadi judul dalam blog garasi 2010. Kali ini dengan wajah berbeda karena seragam itu sudah menjadi milik kami.
SERAGAM...
Sudah menjadi kebiasaan dan seolah-olah kewajiban untuk sebuah grup atau pekumpulan atau hal-hal yang ada banyak orang bergabung menjadi satu kelompok. Dengan alasan identitas, mempermudah koordinasi dan terlihat kompak.
Mari kita lihat,seragam diluar kostum anak-anak sekolah... NAPI memiliki seragam, tukang ojek berseragam, tukang pos, polisi, legislatif yang terkenal mahal, presiden dan mentrinya yang tentu saja mengurangi APBN... dan jangan kaget jika saya seorang ibu rumah tangga memiliki 10 baju batik seragam karena ikut kegiatan sosial... Padahal berapa rupiah yang bisa DIHEMAT dari sebuah benda yang bernama SERAGAM.
Sebenarnya untuk anak Sekolah Garasi tidak perlu berseragam.. Menurut saya buat apa berseragam? untuk apa? Apakah seragam menambah esensi? tentu tidak toh mereka tetap datang ke garasi,duduk diatas tikar, bermain, bernyanyi dan belajar lalu di mana fungsi seragam? Apakah tidak memberatkan orang tua murid?
selain itu perlu memberikan kesempatan untuk anak-anak memakai baju kesayanganya.
ALANGKAH ANEH...
Sungguh sebuah keanehan, orang tua mengeluh mahalnya biaya sekolah formil, mengeluh untuk membeli buku-buku yang hanya Rp. 3.500,- bahkan pensil dan penghapus kamipun yang menyediakan. AKAN TETAPI dengan kompak orang tua murid sekolah Garasi menginginkan seragam yang bisa di cicil, saat kami tawarkan Rp. 50.000,- mereka serentak mengiyakan... MasyaAllah fenomena apakah ini? Penampilan lebih penting dari pada isi, lahir lebih utama dari dzohir...
MARI KITA BERPIKIR KE BELAKANG
Dalam memori kita seragam menduduki posisi penting sehingga seragam menjadi keharusan dan wajib... lambang identitas, kebanggaan kalau boleh dikata.
Dengan dasar itulah orang tua murid sekolah garasi mengadakan tabungan seragam sendiri, memesan seragam dan hasilnya memang bisa kita nikmati bersama walau tidak maksimal karena tidak sesuai kebutuhan..
Padahal di beberapa sekolah sekarang ini sudah meninggalkan keseragaman, karena hal-hal yang seragam mematikan kreatifitas. Perbedaan dianggap tidak wajar padahal dalam proses tumbuh kembang diperlukan kreatifitas tinggi agar perkembangan otak anak optimal. Jika satu kelas belajar hal sama, memakai baju yang sama, melakukan kegiatan yang sama sampai kapan SDM kita tetap menjadi buruh... Karena seragam muncul pada saat revolusi industri , buruh-buruh pabrik diseragamkan berdasarkan jenis pekerjaannya/bagiannya. Lihatlah bangunan sekolah-sekolah di negara kita bentuknya seragam seperti pabrik kaku dan beruang-ruang.
Mari kita ciptakan pendidikan yang memerdekakan.. karena ini bukan jaman belenggu dimana seragam identik dengan sederet aturan yang membatasi hal-hal yang tidak perlu.
Anak kita lebih membutuhkan sentuhan kasih sayang orang tua dan sekitarnya dibandingkan sepotong seragam.
LIHATLAH EKSPRESI ANAK-ANAK ITU TERNYATA TIDAK SERAGAM...
Allah menciptakan kita berbeda-beda agar saling melengkapi, anak-anak diciptakan tidak sama walau mereka kembar itulah bukti kebesaran Allah. Lalu atas nama seragam kita matikan benih-benih yang Allah tanam di masing-masing anak yang merupakan kunci sukses dimasa depan mereka. Benih-benih itu adalah "Blue print", karena setiap janin memiliki perjanjian dengan Allah, kita sebagai orang tua dan lingkungan dimana janin itu tumbuh yang harus peka mengamati benih-benih tersebut sehingga tidak salah dalam mengarahkannya.
Semoga Allah selalu membimbing kami dalam menjalankan tugas dan tanggungjawab membelai tunas-tunas bangsa yang ada dilingkungan sekitar kami.
salam kepala sekolah
Sari
0 komentar:
Posting Komentar