19.18

NERAKA DAN GUDANG



Mulut mungil itu meneriakkan,"Kakak Krisna!! Daud tidak mau minjemin mainan dia masuk neraka ya...". Menarik untuk anak usia 4 tahun-an Gifari sudah meneriakkan "Neraka" sebagai ancaman. Dialog selanjutnya disela acara bermain :
Kami : "Kenapa masuk neraka?"
Gifari :"iya kalau nakal nanti masuk neraka"
Kami : "Kata siapa"
Gifari : "kata guru aku disekolah"

Topik tiba-tiba berpindah

Gifari : "Itu gudangnya Kakak krisna ya? aku kalau nakal dikurung digudang, lampunya dimatikan ama ibu"(panggilan untuk nenek yang merawatnya).
Kami : "Terus Gifari masih nakal?"
Gifari : "iya"
Kami : "loh nanti dimasukin gudang lagi dong, oleh ibu?"
Gifari: "ya tidak papa, dimasukin tikus juga tidak papa".
Kami : Manggut - manggut, geleng-geleng, garuk-garuk.


Apa yang menarik disini.... Motivasi memperkenalkan Neraka pada balita :
1. Menakut-nakuti anak agar dia menuruti apa perintah kita atau larangan kita,
2. Agar menjadi anak penurut, anteng dan tidak banyak tingkah,
3. Senjata pamungkas saat semua ancaman tidak mempan/tidak ditakuti anak.

Pernahkah kita menanyakan sejauh mana pemahaman neraka bagi anak-anak balita, sejauh ini yang mereka tahu dineraka itu panas, disiksa kemudian badan kita terbakar api, karena makan dan minumnya dari api. Pernah tidak kita berpikir kita bisa menjawab dengan benar saat anak mempertanyakan dimana letak neraka itu? atau kita hanya memumpus dengan jawaban di akherat nanti setelah mati.
ala kadarnya untuk membungkam mulut mungil mereka.

Apakah ada efeknya? Biasanya anak lebih percaya kepada hal-hal yang bisa kita lihat dan rasakan, sama halnya sebagian orang dewasa. Hukuman bagi anak jika sedang banyak mau atau banyak tingkah agar mereka jera kadang tidak efektif. Misal dalam kasus diatas dengan memasukkan ke dalam gudang yang gelap.

Tidak ada anak yang nakal, karena fase anak-anak adalah fase belajar atau tumbuh kembang semua akan dipelajari semua akan di coba, semakin banyak yang mereka pegang, semakin banyak yang mereka lakukan maka semakin banyak ilmu yang mereka dapat. dengan catatan orang tua memberikan bimbingan dan pendampingan.

Kadang kita lupa akan peran kita, bagaimana anak-anak bisa melalui fase tumbuh kembang ini dengan sukses jika kita tidak membuat aktivitas anak-anak yang kadang terlalu berlebihan menurut kita menjadi optimal.

Gantilah hukuman yang berdampak terhadap fisik maupun psikis, karena efekny sementara jika hanya untuk membuat anak menurut, tetapi bekas yang ditinggalkan bisa jangka lama. Pada kasus Gifari saat awal digudang dia akan takut tetapi lama-lama dia akan beradaptasi, karena anak akan mempelajari pola seklilingnya. Bisa jadi efeknya adalah jera dan ketakutan, hal ini akan meninggalkan trauma pada diri anak dan tidak bagus dalam proses tumbuh kembangnya.

Dua anak Sekolah Garasi tersebut, memiliki energi cukup banyak untuk melakukan apa saja, Daud lebih kepada fisik, sedangkan Gifari lebih kepada mengolah kata dan pikiran (jago menjawab/diplomasi dan cenderung berbohong).

Jika kita semua sadar ini adalah peluang, tunas - tunas muda yang baru numbuh ini adalah pohon-pohon masa depan. dimana masa depan bangsa dan negara terletak di pundak mereka, jika baik generasinya insyaAllah baik juga negaranya.

salam hangat
sari

0 komentar:

Posting Komentar