02.37

KESEDERHANAAN ITU BUTUH PENGORBANAN



Sebuah perjalanan yang memberikan banyak hikmah, sederhana tapi bermakna, aebuah kalimat muncul setelahnya mengusik hati, pengorbanan apakah sama dengan ke ikhlasan atau suatu hal yang berbeda.

Saat bus berjalan pelan, dengan muatan penuh sesak, daya tampung 60 orang dewasa menjadi 120-an terdiri dari ibu-ibu dan anak-anak. Hari ini murid Sekolah Garasi atau sekarang bernama Paud Kenanga Mandiri mengadakan kegiatan ke Taman Margasatwa Ragunan di Jakarta Selatan. Ada cerita apa dibalik kegiatan tersebut, sedikit improvisasi jadilah, "Kesederhanaanpun butuh Pengorbanan"

Penulis berdiri diantara guru dan beberapa orang tua murid, berdesakan tentu saja dan tetap harus membuat suasana ceria dengan menyanyi bersama. Setelah sampai di tempat kami duduk bersama, anak-anak bertukar bingkisan yang dibungkus kertas koran, harganya tidak lebih dari Rp. 10.000,- setelah itu makan bersama. Sederhana, ya sangat sederhana untuk menunya pun apa yang biasa dimakan dirumah, dengan bumbu yang biasa juga.

Sedangkan untuk sebuah kesederhanaan itu ada beberapa yang musti dikorbankan, waktu untuk menyiapkan bahan presentasi, menahan capek berdiri sepanjang jalan dengan bus yang AC nya tidak terasa dan ada yang harus libur dari mencari nafkah menjadi tukang cuci serta tentu setiap orang berbeda akan persepsi pengorbanan menurut kaca mata masing-masing orang.

Bahkan ada beberapa orang tua murid memutuskan tidak ikut acara ini karena sudah memprediksi ketidaknyamanan yang akan dideritanya. Selain biayanya lebih mahal dibanding jika mengendarai motor sendiri (bagi yang memiliki motor)juga terbayang musti menyiapakan kado dan bekal pagi-pagi. karena semua hal yang terjadi itulah tiba-tiba muncul kalimat singkat,"Mengapa untuk sebuah kesederhanaan musti berkorban".

Jawabannya adalah kebahagiaan anak-anak, keceriaannya nampak jelas saat melihat burung pelikan makan ikan yang dilemparkan petugas, melihat gajah, jerapah dan lain-lain. Celotehnya yang tidak lepas dengan rentetan pertanyaan, langkah-langkah cepatnya setiap akan sampai obyek / kandang binatang. Penuh cnda bersuka ria, bergembira dan wajah-wajah mereka penuh rasa ingin tahu yang luar biasa, naik kereta keliling lokasi setiap melewati kami selalu berteriak,"Dada..ibu guru..dada..." subhnallah indah rasa di hati ini.

Ketika perjalanan pulang dengan bus penuh sesak dan makin panas, wajah-wajah mungil itu pulas, menempel ke kaca, ketubuh temannya, dipangkuan ibunya atau nyadar begitu saja dengan kepala terkulai. Seandainya semua orang tersadar akan keajaiban ekspresi wajah balita saat tertidur, sungguh waktupun akan berhenti berdetak rasanya. Wajah-wajah tanpa dosa, luruh semua,terasa teduh.

Apakah sebanding? hanya rasa di jiwa yang bisa menjawabnya, tetapi penulis yakin jika niat ikhlas merajai hati pahala Allah akan menanti...
masihkah sebanding??? bagi penulis lebih dari sebanding... atau
Kita tunggu jawaban orang tua dan murid-murid garasi dikesempatan berikutnya..

Tapi... adakah dari kita mau berkorban untuk sebuah kesederhanaan tanpa keterpaksaan, meninggalkan kegiatan yang menghasilkan uang dan menderita untuk kebahagiaan anak-anak dari keluarga yang tinggal di kontrakan yang menyisihkan uang Rp. 35,000,- saja berat. Ya, kami memiliki kesederhanaan itu, tapi kami tetap berbagi, apapun yang kami punya walau sederhana...


kepala sekolah

0 komentar:

Posting Komentar