PENDIDIKAN DAN PEMERDEKAAN
oleh Ma'afkan Lah Sari pada 23 Juli 2011 jam 0:14
Pada jaman dahulu kala, saat anak-anak TK masih mendapat susu bubuk 250 gr setiap bulan dari pemerintah. Sering kali menimbulkan cerita lucu karena anak-anak TK yang banyak tingkah susunya bisa jatuh dan tumpah menimbulkan tangis heboh karena susu tumpah tidak dapat diganti baru karena keterbatasan jumlah.
Susu yang dikemas dalam plastik 1/4 kg, tidak diseduh kemudian diminum seperti halnya iklan-iklan susu instant saat ini, tetapi anak-anak TK tersebut memakan begitu saja susu jatah itu, kadang jika sampai rumah ditambahkan gula pasir diletakkan di tatakan gelas kecil kemudian dijilati... nikmatnya jangan ditanya... gurih, manis, dan krenyes"...
Saat beranjak SD masih di jaman yang sama, anak-anak TK ini mengenakan seragam merah putih dan berdasi merah. Di sekolah yang sama, lingkungan sama dan teman-teman yang sama, serta kegiatan yang sama juga. Pergi atau pulang sekolah berjalan kaki ramai-ramai, kala musim hujan memetik daun pisang untuk payung walau tetap saja basah tubuhnya sesungguhnya lebih asyik berbasah"an... bermain adalah kegiatan yang mendominasi seteiap hari. Belajar ya kalau malam hari, atau mengerjakan PR secara kelompok di sore hari, buku-buku paket mendapat pinjaman dari sekolah dan itu cukup. Indah dan serba mudah bahkan beberapa teman mendapat beasiswa dari pemerintah, sempat membakar cemburu karena beasiswa tersebut sampai berupa tas, sepatu, dan baju seragam baru... itu dulu....
Sekarang.... untuk bersekolah TK biaya yang di keluarkan cukup mahal terutama di kota besar dua ratus ribu sampai jutaan harus dikeluarkan untuk kegiatan bermain bersama. Saat masuk SD memang gratis tetapi seragam dan buku-buku (+/- Rp. 400.000) cukup membuat orang tua yang kurang mampu kalang kabut miris.
Apalagi yang kuliah... dasyat.... ratusan juta... wow.... apalagi untuk masuk kerja... hebaatt... puluhan sampai ratusan juta juga ada..... o,ya sebelum lupa, jika kuliah mahal ada jalan pintas beli ijasah lebih praktis, ekonomis, miris dan tragis.... mau jadi apa negeri ini jika dasarnya saja rusak...
Pendidikan merupakan dasar... saat Jepang di bom atom 1942 pertama kali dibangkitkan adalah pendidikannya.... saat sebuah koperasi sejati didirikan langkah awal adalah pendidikan untuk calon anggotanya, pengurusnya dan manajemennya...Pendidikan seharunya memerdekakan jiwa-jiwa yang kerdil, otak-otak yang buntu, dan hati-hati yang mati suri... pendidikanlah yang memerdekakan bangsa ini melalui tokoh-tokoh yang terdidik....
Apa pendapat Ki Hajar Dewantara jika melihat negeri ini disaat ini.... kemana perginya generasi-generasi "Taman Siswa"... kemana perginya uang pajak - pajak yang kami bayarkan... kearah mana mata memandang pemerintah kita...
oohh.... sudahalah.... larut sudah menjemput... dini hari menanti.... cukup disini kata hati kutuang dalam tulisan ini.. jiwaku merana melihat semuanya... dan aku hanya bisa tertatih-tatih mencoba melangkah dengan pelita kecil dari Rumah Cahaya....
Tulisan ini untukmu saudaraku yang terjebak dalam putus asa masa lalu, kutulis bagi sahabat yang masih ingin berpikir sehat... kalau bukan kita siapa lagi yang akan memperbaikinya...
Merdekakan
shp
dikutip dari catatan Fb:
http://www.facebook.com/note.php?note_id=251867974828853
0 komentar:
Posting Komentar